Contoh Susunan Laporan Observasi Bimbingan Konseling


PROGRAM BIMBINGAN KONSELING KELAS I
SD NEGERI 01 BAWU BATEALIT JEPARA


 











LAPORAN OBSERVASI

Disusun untuk Memenuhi Tugas Ujian Akhir Semester Ganjil
Mata Kuliah Bimbingan Konseling SD
Dosen Pengampu
Fitria Novita Sarie, S.Pd,M.Pd.

Kelas 3PGSD A2
Oleh
...............................
171330000088

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NAHDLATUL ULAMA JEPARA
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas rahmat dan hidayahNya yang telah memberikan petunjuk dan kemudahan untuk menyelesaikan laporan observasi yang berjudul “Program Bimbingan Konseling Kelas I SD Negeri 01 Bawu Batealit Jepara”.
Dalam penulisan laporan ini, penulis mendapat bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak, maka pada kesempatan ini kami menyampaikan banyak ucapan terimakasih kepada:
1.      Ibu Fitria Novita Sarie S.Pd.,M.Pd. selaku dosen mata kuliah Bimbingan Konseling SD yang senantiasa membimbing dan memberi arahan.
2.      Bapak Mohammad Askin, S.Pd.Selaku Kepala Sekolah SD Negeri 01 Bawu Batealit Jepara yang telah mengizinkan melakukan observasi serta bersedia membantu dalam memberikan data dan keterangan bagi penulisan laporan observasi ini.
3.      Ibu Dina Andriani, S.Pd. Selaku wali kelas I yang telah bersedia membantu penulis dalam memberikan data dan keterangan bagi penulisan laporan observasi ini.
4.      Seluruh siswa SD Negeri 01 Bawu kelas I yang telah menyambut dengan baik keberadaan penulis dalam kelas serta bersedia membantu dalam memberikan keterangan bagi penulisan laporan observasi ini.
Penulis menyadari bahwa laporan observasi ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan laporan observasi yang akan datang. Semoga laporan ini dapat memberikan pengetahuan yang lebih luas kepada pembaca.

Jepara, 12 Januari 2019


Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.......................................................................................... ii
DAFTAR ISI......................................................................................................... iii
BAB 1 LOKASI OBSERVASI
1.1        Identitas Lokasi Observasi.......................................................... .............1
1.2        Pelaksanaan Observasi............................................................................ .1
BAB 2 HASIL OBSERVASI
2.1     Identifikasi Masalah-Masalah di SD....................................................... 2
2.2         Paparan Objek Masalah........................................................................... 5
BAB 3 RENCANA PROGRAM BIMBINGAN KONSELING
3.1         Perencanaan Program BK....................................................................... 7
3.2         Pelaksanaan Program BK........................................................................ 8
BAB 4 PENUTUP
4.1         Simpulan................................................................................................ 10
4.2         Saran...................................................................................................... 10
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... 11
LAMPIRAN


BAB 1
LOKASI OBSERVASI

1.1  Identitas Lokasi Observasi
Dalam Observasi ini peneliti mengambil lokasi di SD Negeri 01 Bawu Kecamatan Batealit Kabupaten Jepara. SD Negeri 01 Bawu merupakan salah satu sekolah di desa Bawu yang beralamat di desa/kelurahan Bawu RT 20 RW 04 Kec. Batealit, Kab. Jepara, Prov. Jawa Tengah. Sekolah ini resmi berdiri berdasarkan SK Pendirian Sekolah No. 421.2/005/VIII pada tanggal 1 Agustus 1952. Saat ini SD Negeri 1 Bawu memiliki 11 guru dan karyawan yang terdiri dari 1 Kepala Sekolah, 6 guru kelas, 1 guru Agama Islam, 1 guru Olahraga, 1 perpustakaan dan 1 penjaga sekolah. Serta memiliki keseluruhan siswa berjumlah 184 siswa. Observasi yang peneliti lakukan berada di kelas 1dengan jumlah siswa sebanyak  32 siswa, yang terdiri dari 18 perempuan dan 14 laki-laki.

1.2  Pelaksanaan Observasi
Peneliti telah melaksanakan observasi selama dua kali dengan hari dan tanggal yang berbeda. Waktu yang digunakan yaitu:
a)    Senin, 17 Desember 2018, adapun kegiatannya meliputi:
1.    Perkenalan dan meminta izin untuk melakukan observasi
2.    Menyerahkan surat pengantar dari universitas kepada Kepala Sekolah SD Negeri 01 Bawu
3.    Melakukan Perjanjian Wawancara kepada Kepala Sekolah, Guru kelas I, siswa kelas I serta pihak lainnya yang terkait
b)   Jum’at, 4 Januari 2019, adapun kegiatannya meliputi:
1.    Melakukan wawancara dengan kepala Sekolah SD Negeri 01 Bawu
2.    Melakukan wawancara dengan guru kelas I
3.    Mengamati Keadaan lingkungan di dalam ruang kelas I
4.    Melakukan wawancara dengan siswa serta pihak lainnya yang terkait.


BAB 2
HASIL OBSERVASI

2.1 Identifikasi Masalah-Masalah SD
Dari observasi yang dilakukan oleh peneliti di SD Negeri 01 Bawu pada hari Jum’at 4 Januari 2019 penulis melaksanakan wawancara dengan narasumber wali kelas I ibu Dina Andriani, S.Pd. berhasil memperoleh informasi dan data mengenai permasalahan-permasalahan anak SD ketika proses pembelajaran. Permasalahan diartikan sebagai ketidaksesuaian anatara harapan dan kenyataan. Menurut Prayitno (1995) mengemukakan bahwa masalah adalah suatu yang tidak disukai, menimbulkan kesulitan bagi diri sendiri dan orang lain dan perlu dihilangkan. Masalah-masalah individu yang timbul dalam lingkup sekolah dapat diklasifikasikan dalam tiga bidang atau jenis, sebagaimana dikemukakan oleh Djumhur dan Moh. Surya seperti dikutip oleh Annas Salahuddin (2010: 66-67) adalah sebagai berikut: (a) Masalah pendidikan (pengajaran dan belajar). Individu merasakan kesulitan dalam menghadapi kegiatan belajar. (b) Masalah pribadi dan sosial. Masalah-masalah pribadi dalam lingkup sekolah pada umumnya dari dalam pribadi individu yang berhadapan dengan lingkungan sekitarnya. (c) Masalah pekerjaan, masalah ini berhubungan dengan pemilihan pekerjaan. Dengan demikian permasalahan pada peserta didik merupakan perilaku yang tidak biasa atau menyimpang dari aturan akibat dari penyesuaian yang dilakuakan dengan lingkungan. Guru perlu memahami perilaku bermasalah sebab biasanya perilaku bermasalah tersebut akan tampak di dalam kelas dan bahkan akan menampakkan perilaku bermasalah itu dalam keseluruhan interaksi dengan lingkungannya.
Berdasarkan observasi yang dilakukan peneliti dan informasi yang diperoleh dari narasumber Ibu Dina Andriani, S.Pd. wali kelas I bahwa terdapat beberapa masalah-masalah yang beragam yang dialami siswa kelas I antara lain:
1.    Kesulitan belajar
Kesulitan belajar merupakan keadaan dimana siswa tidak dapat belajar sebagaimana mestinya dikarenakan adanya hambatan-hambatan yang dialami siswa dalam memahami satu atau lebih bidang studi lainnya sehingga mempengaruhi hasil belajar. Adapun kesulitan belajar yang dialami siswa kelas ISD Negeri 01 Bawu adalah kurang terfokusnya siswa pada penjelasan yang diberikan guru. Ketika kegiatan pembelajaran berlangsung terlihat siswa kurang aktif,hanya beberapa siswa yang memperhatikan guru mengajar di kelas sedangkan siswa lainnya tidak memperhatikan dan sibuk dengan hal-hal yang lain seperti, bermain sendiri, mengobrol dengan teman sebangku sehingga ketika guru menjelaskan tidak diperhatikan oleh siswa dan guru juga jarang melontarkan pertanyaan kepada siswa sehingga siswa mengabaikan apa yang disampaikan oleh guru. Kesulitan belajar yang dialami siswa khususnya yang berkaitan dengan pembelajaran matematika, rata-rata siswa kelas I menganggap bahwa matematika merupakan pelajaran yang sulit dan susah untuk dimengerti. Siswa tidak dapat menyelesaikan soal yang rumit yang membutuhkan pemikiran lebih rinci. Akan tatapi jika soal yang diberikan sederhana maka siswa dapat meyelesaikannya dengan mudah, akan tetapi jika soal yang diberika rumit siswa akan mengalami kesulitan dalam menyelesaikannya. Hal ini dikarenakan siswa kurang berusaha dan kurang mendapatkan motivasi atau dorongan dalam menyelesaikan dan cenderung lebih mudah menyerah dalam menyelesaikan soal matematika yang rumit.
2.    Pemalu dan Kurang percaya diri
Siswa yang memiliki sifat pemalu dan kurang percaya diri biasanya menutup diri, kurang pandai bergaul dengan teman sebayanya, tidak bisa mengekspresikan dirinya, adanya perasaan tertekan dan sebagainya. Hal tersebut dapat berpengaruh pada prestasi belajarnya. Ketika peneliti melakukan observasi didalam kelas anak yang pemalu dan cenderung kurang percaya diridi dalam kelas anak tersebut kurang bergaul dengan teman sebaya. Ketika peneliti berusaha mendekati dan berkomunikasi dengan anak tersebut dia malu-malu dan tidak mengatakan apapun, dan merasa tidak nyaman ketika bersosialisasi dengan orang lain (peneliti). Ketika pembelajaran berlangsung guru meminta siswa kurang percaya diri tersebut untuk maju kedepan kelas menjawab soal dia tidak mau maju karena tidak berani, bahkan diminta guru untuk berbicara tetapi siswa tersebut diam saja dan menjawabnya dengan bahasa tubuh.
3.    Malas berangkat sekolah
Peniliti mendapatkan informasi dari narasumber ibu Dina Andriani, S.Pd. Bahwa terdapat salah satu siswanya yang sering tidak berangkat sekolah tanpa keterangan. Hal tersebut disebabkan karena salah satunya faktor internal dari keluarga, orangtuanya kurang memperhatikan anak. Berdasarkan informasi bahwa siswa tersebut dari rumah ia berpamitan ke sekolah tetapi tidak sampai disekolah. Hal tersebut jika dibiarkan terus menerus tentu akan berakibat pada prestasi belajarnya karena tidak pernah masuk sekolah akan berakibat pada ketertinggalan materi pelajaran dan berakibat menurunnya prestasi belajar yang diperoleh.
4.    Sering bertengkar dengan teman
Siswa pada usia sekolah dasar yakni  6-12 tahun belum terlalu terampil dalam mengemukakan perasaan atau pendapat verbalnya. Maka dari itu tidak heran seorang siswa terlibat masalah dengan beberapa temannya.Menurut data yang peneliti dapatkan dari narasumber mengenai permasalahan siswa sering bertengkar utamanya pada salah satu siswa kelas I dengan siswa kelas II dimulai karena ejekan adu mulut lalu kemudian terjadi saling memukul. Oleh karena itu perlunya penanganan untuk mengatasi permasalahan siswa yang bertengkar agar masalah tidak berkelanjutan dan berujung pada damai antar kedua belah pihak.
5.    Mengucapkan kata-kata yang kasar dan tidak sopan
Kata-kata kasar pada umumnya timbul akibat tersakiti, diganggu atau kebutuhannya tidak terpenuhi. Kata-kata kasar  juga bisa diserap atau diperoleh dari lingkungan sekitarnya, misalnya teman mainnya yang sering mengucapkan kata-kata kasar dan tidak sopan sehingga akan berakibat pada kecenderungan untuk mengikuti dan mencontoh perilaku tersebut. Siswa kelas I yang peneliti amati terdapat siswa yang cenderung meremehkan guru ketika pembelajaran dan tidak hormat pada gurunya. Ketika dinasehati oleh guru siswa tersebut  justru tidak memperdulikan apa yang di ucapkan guru sehingga terkesan tidak menghormati guru ketika berbicara dengannya.
6.    Ramai ketika pembelajaran di kelas
Salah satu masalah yang terjadi ketika berada di dalam kelas yakni siswa ramai sendiri ketika guru sedang menjelaskan materi pelajaran. Hal tersebut tentu saja menjadi sebuah masalah karena dapat mengganggu konsentrasi belajar teman di sekitarnya. Siswa yang ramai sendiri mempunyai kesibukan sendiri seperti bermain mainan yang akan dimainkan waktu istirahat, mengobrol dengan teman yang lainnya, membuat keributan sehingga menciptakan suasana yang ramai di dalam kelas.
7.    Siswa takut dengan guru
Setelah teramati terdapat siswi kelas 1 menangis saat pembelajaran di kelas disebabkan tidak menyukai guru laki-laki dan menginginkan setiap harinya dalam proses belajar di isi oleh semua guru wanita, dalam penilaian siswi tersebut semua guru laki-laki berkarakter pemarah, kasar dan kurang perhatian.


2.2 Paparan Objek Masalah
       Berdasarkan observasi dengan guru kelas I ibu Dina Andriani, S.Pd. Peneliti ingin memaparkan salah satu permasalahan yang telah diuraikan diatas secara lebih detail dan lebih rinci mengenai permasalahan salah satu siswa kelas I yang memiliki sifat pemalu dan kurang percaya diri. Adapun mengenai pemaparannya sebagai berikut:
Nama siswa     : Muhammad Mirza Zakaria Zul’an
Tanggal lahir   : Jepara, 17 Agustus 2012
Jenis kelamin   : Laki-laki
Umur               : 7 tahun
Kelas               : I (Satu)
Sekolah           : SD Negeri 01 Bawu
Alamat                        : Desa Bawu RT. 27 RW. 06 Kec. Batelit Kab. Jepara
Diagnosa         : Memiliki sifat pemalu dan kurang percaya diri dalam segala hal baik pergaulan dan bersosialialisasi dengan orang lain, maupun dalam proses pembelajaran.
       Ketika peneliti mengamati siswa ini di dalam kelas dia sama sekali diam dan tidak mau berbicara dan ketika guru bertanya kepada Mirza, dia hanya diam saja dan menjawabnya dengan bahasa tubuh. Dalam memahami dan menerima materi pelajaran mirza sudah baik. Mirza termasuk siswa yang baik dan sopan pada guru, tetapi dalam pergaulannya Mirza anak yang pendiam atau pemalu dan jarang sekali berbicara selalu menyendiri ketika istirahat tidak seperti teman-temannya yang lain ketika istirahat semua siswa keluar kelas untuk bermain bersama. Pernah ketika Mirza diminta maju kedepan oleh gurunya tetapi dia tidak mau maju untuk menjawab soal karena dia tidak berani dan kurang percaya diri terhadap kemampuan yang dimiliknya.
       Penanganan yang diberikan oleh guru kelas Mirza yakni ibu Dina Andriani, menurut beliau menangani anak yang pendiam dan pemalu itu melalui pendekatan dan juga adanya kerjasama dengan orangtua Mirza. Pendekatan individu yang dilakukan ketika tidak dalam proses pembelajaran misalnya pelan-pelan diajak untuk berbicara mengenai kesukaannya. Selain itu buatlah Mirza percaya dan merasa nyaman dengan kita sebagai guru. Karena kalau sudah nyaman tentunya akan lebih terbuka. Selain itu penanganan juga dilakukan oleh keluarga, dilibatkannya keluarga dalam penanganan masalah anak karena Mirza lebih banyak menghabiskan waktunya bersama dengan keluarga dibandingkan di sekolah. Selain itu pihak keluargalah yang sangat berperan dalam membentuk rasa percaya diri Mirza. Dengan melibatkan keluarga diharapkan penanganan terhadap Mirza dapat mencapai hasil yang maksimal. Upaya penanganan juga harus melibatkan teman-teman Mirza.





BAB 3
RENCANA PROGRAM BIMBINGAN KONSELING

3.1    Perencanaan Program Bimbingan Konseling
Program Bimbingan konseling yang peneliti pilih untuk menangani permasalahan  kepercayaan diri siswa dengan menggunakan layanan  konseling kelompok. Peneliti dalam hal ini mengambil referensi jurnal yang berjudul Mengatasi Kepercayaan diri siswa melalui Konseling Kelompok. Konseling kelompok merupakan suatu proses antar pribadi yang terpusat pada pemikiran dan perilaku yang disadari. Proses itu mengandung ciri-ciri seperti mengungkapkan pikiran dan perasaan secara leluasa, orientasi pada kenyataan, pembukaan diri mengenai perasaan-perasaan mendalam yang dialami, saling percaya, saling perhatian, saling pengertian, dan saling mendukung (Prayitno, 2005). Tujuan konseling kelompok adalah berkembangnya kemampuan sosial siswa, khususnya kemampuan berkomunikasinya. Melalui konseling kelompok hal-hal yang dapat menghambat atau mengganggu sosialisasi dan komunikasi siswa diungkap dan didinamikakan melalui berbagai teknik, sehingga kemampuan komunikasi dan sosialisasi siswa berkembang secara optimal.
Konseling kelompok merupakan salah satu dari sekian banyak layanan yang ada dalam bimbingan dan konseling. Kepercayaan diri merupakan komponen penting dalam mengembangkan potensi diri siswa. Dalam tahap perencanaan ini adalah membentuk kelompok yang akan melaksanakan konseling kelompok. Sebelum konseling kelompok dilaksanakan guru kelas yang berperan sekaligus sebagai guru BK terlebih dahulu mengumpulkan beberapa siswa yang akan melaksanakan konseling kelompok. Tahap ini merupakan tahap pengenalan,  tahap pelibatan diri atau tahap memasukkan diri kedalam kehidupan suatu kelompok. Pada tahap ini umumnya para siswa yang menjadi anggota kelompok saling memperkenalkan diri selanjutnya menunjuk salah satu anggota untuk menjadi pemimpin dalam kelompok selanjutnya pimpinan kelompok mengadakan permainan untuk mengakrabkan masing-masing anggota sehingga menunjukkan sikap hangat, tulus, dan penuh empati. Proses utama pada tahap awal ini adalah orientasi dan eksplorasi. Pada awalnya tahap ini akan diwarnai keraguan dan kekhawatiran, namun juga harapan dari siswa. Namun apabila guru BK mampu menfasilitasi kondisi tersebut, tahap ini akan memunculkan kepercayaan terhadap kelompok.
Tahap selanjutnya adalah membangun iklim saling percaya yang mendorong anggota kelompok menghadapi rasa takut yang muncul pada tahap awal. Guru BK perlu memahami karakteristik masing-masing anggota kelompok.  Sebelum melangkah lebih lanjut ke tahap kegiatan kelompok yang sebenarnya, guru BK menjelaskan peranan kelompok dalam kegiatan kemudian menawarkan atau mengamati apakah para anggota sudah siap menjalani kegiatan pada tahap selanjutnya. Langkah-langkah pada tahap ini diantaranya; (a) menjelaskan kembali kegiatan konseling kelompok, (b) tanya jawab tentang kesiapan anggota untuk kegiatan lebih lanjut, (c) mengenali suasana apabila anggota secara keseluruhan atau sebagaian belum siap untuk memasuki tahap betikutnyadan mengatasi suasana tersebut, (d) memberi contoh masalah pribadi yang dikemukakan dan dibahas dalam kelompok.

3.2    Pelaksanaan Program Bimbingan Konseling
Pada tahap ini ada proses penggalian permasalahan yang mendalam dan tindakan yang efektif. Menjelaskan masalah pribadi yang hendak dikemukakan. Tahap ini merupakan kehidupan yang sebenarnya dari kelompok. Namun kelangsungan kegiatan kelompok pada tahap ini amat tergantung pada hasil dari tahap sebelumnya yakni tahap perencanaan. Jika tahap sebelumnya berjalan dengan baik, maka tahap pelaksanaan ini akan berhasil dengan lancar. Tahap ini merupakan tahap dimana masing-masing siswa yang termasuk dalam anggota kelompok saling berinteraksi dengan adanya bimbingan dan arahan dari Guru BK sehingga rasa malu dan tidak percaya diri dapat diatasi dan membawa kearah konseling kelompok sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Pada tahap ini pelaksanaan konseling ditandai dengan anggota kelompok mulai melakukan perubahan tingkah laku di dalam kelompok.Adapun teknik kelompok untuk mengatasi rasa kepercayaan diri siswa, diantaranya:
a.    Teknik Umum
Merupakan teknik-teknik yang dipergunakan dalam penyelenggaraan layanan konseling kelompok mengacu pada berkembangnya dinamika kelompok yang diakui oleh seluruh anggota kelompok untuk mencapai tujuan layanan.
Adapun teknik-tekniknya meliputi; (a) komunikasi multi arah secara efektif dan terbuka, (b) pemberian rangsangan untuk menimbulkan inisiatif dalam pembahasan, diskusi, analisis, (c) pelatihan untuk membentuk pola tingkah laku yang dikehendaki.
b.    Teknik permainan kelompok
Layanan konseling kelompok dapat diterapkan teknik permainan baik sebagai selingan maupun wahana (media) yang memuat materi pembinaan tertentu. Permainan kelompok yang efektif harus memnuhi ciri-ciri sebagai berikut; (a)  sederhana, (b) menggembirakan, (c) menimbulkan rasa santai, (d) meningkatkan keakraban.
c.    Modeling
Merupakan strategi dimana guru BK menyediakan demonstrasi tentang tingkah laku yang menjadi tujuan. Teknik ini dilaksanakan dengan mengamati dan menghadirkan model secara langsung saat konseling kelompok untuk mencapai tujuan, sehingga kecakapn-kecakapan pribadi atau sosial tertentu bisa diperoleh dengan mengamati atau mencontoh tingkah laku model-model yang ada.
d.   Bermain peran
Merupakan suatu teknik konseling melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan anggota kelompok. Pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan dengan memerankan sebagai tokoh hidup atau benda mati yang disesuaikan dengan kejadian dalam kehidupan sebenarnya.
e.    Menggunakan Humor
Humor dipergunakan sebagai selingan saat konseling kelompok yang mendorong suasana yang segar dan relaks tidak menimbulkan ketegangan.

BAB 4
PENUTUP

4.1    Simpulan
Berdasarkan uraian diatas masalah-masalah yang dialami siswa SD Negeri 01 Bawu Kec. Batealit Kab. Jepara kelas I diantaranya;kesulitan dalam belajar, rasa malu dan kurang percaya diri, malas berangkat sekolah, sering melanggar kedisiplinan sekolah, bertengkar dengan teman, mengucapkan kata-kata kasar dan tidak sopan, ramai ketika pembelajaran, serta takut dengan guru yang tidak di sukai.
Penanganan untuk mengatasi permasalahan siswa berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan masing-masing siswa tersebut. Dengan adanya Bimbingan atau arahan yang diberikan guru BK dapat memberikan bantuan pada siswa agar dapat menjadi pribadi yang memiliki pemahaman akan diri sendiri dan sekitarnya serta membantu daalam teratasinya permasalahan yang dialaminya. Bimbingan dan pendidikan pada siswa sangatlah dibutuhkan guna membentuk karakter siswa.
4.2    Saran
Guru selaku pendidik harus dapat mengetahui karakteristik siswa sebelum guru melakukan kegiatan pembelajaran. Hal ini penting dilakukan karena pada diri siswa terdapat banyak keunikan yang berbeda-beda. Dalam hal ini semua elemen yang terlibat dalam mengatatasi permasalahan yang dialami siswa harus saling mendukung dan terlibat baik sekolah itu sendiri, guru, serta orangtuaagar dapat terselesaikan secara optimal.








DAFTAR PUSTAKA
.
Prayitno. 2005. Layanan Bimbingan dan Konseling Kelompok. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Prayitno. 1995. Layanan Bimbingan dan Konseling Kelompok (Dasar dan Profil). Padang: Ghalia Indonesia.
Salahudin, Anas. 2010. Bimbingan dan Konseling. Bandung: Pustaka Setia.
Mulkiyan. 2017. Mengatasi Masalah Kepercayaan Diri Siswa Melalui Konseling Kelompok. Yogyakarta: Jurnal Konseling dan Pendidikan Vol.5.,No.3, hlm.136-142.






















Lampiran : Dokumentasi Kegiatan Observasi

Observasi berlangsung dengan peserta didik
.................................... 
Dokumentasi selesai wawancara dengan guru kelas I ibu Dina Andriani, S.Pd.
.................................................

No comments

Powered by Blogger.