Contoh Susunan Laporan Observasi Bimbingan Konseling
PROGRAM BIMBINGAN KONSELING KELAS I
SD NEGERI 01 BAWU BATEALIT JEPARA
LAPORAN OBSERVASI
Disusun untuk Memenuhi Tugas Ujian Akhir
Semester Ganjil
Mata Kuliah
Bimbingan Konseling SD
Dosen Pengampu
Fitria
Novita Sarie, S.Pd,M.Pd.
Kelas 3PGSD A2
Oleh
...............................
171330000088
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM
NAHDLATUL ULAMA JEPARA
2019
KATA PENGANTAR
Puji
syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas rahmat dan hidayahNya yang telah
memberikan petunjuk dan kemudahan untuk menyelesaikan laporan observasi yang
berjudul “Program Bimbingan Konseling Kelas I SD Negeri 01 Bawu
Batealit Jepara”.
Dalam
penulisan laporan ini, penulis mendapat bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak,
maka pada kesempatan ini kami menyampaikan banyak ucapan terimakasih kepada:
1. Ibu
Fitria Novita Sarie S.Pd.,M.Pd. selaku dosen mata kuliah Bimbingan Konseling SD
yang senantiasa membimbing dan memberi arahan.
2. Bapak
Mohammad Askin, S.Pd.Selaku Kepala Sekolah SD Negeri 01 Bawu Batealit Jepara
yang telah mengizinkan melakukan observasi serta bersedia membantu dalam
memberikan data dan keterangan bagi penulisan laporan observasi ini.
3. Ibu
Dina Andriani, S.Pd. Selaku wali kelas I yang telah bersedia membantu penulis
dalam memberikan data dan keterangan bagi penulisan laporan observasi ini.
4. Seluruh
siswa SD Negeri 01 Bawu kelas I yang telah menyambut dengan baik keberadaan
penulis dalam kelas serta bersedia membantu dalam memberikan keterangan bagi
penulisan laporan observasi ini.
Penulis
menyadari bahwa laporan observasi ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena
itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi
kesempurnaan laporan observasi yang akan datang. Semoga laporan ini dapat
memberikan pengetahuan yang lebih luas kepada pembaca.
Jepara,
12 Januari 2019
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.......................................................................................... ii
DAFTAR ISI......................................................................................................... iii
KATA PENGANTAR.......................................................................................... ii
DAFTAR ISI......................................................................................................... iii
BAB
1 LOKASI OBSERVASI
1.1 Identitas Lokasi Observasi.......................................................... .............1
1.1 Identitas Lokasi Observasi.......................................................... .............1
1.2
Pelaksanaan Observasi............................................................................ .1
BAB
2 HASIL OBSERVASI
2.1 Identifikasi Masalah-Masalah di SD....................................................... 2
2.2
Paparan Objek Masalah........................................................................... 5
BAB
3 RENCANA PROGRAM BIMBINGAN KONSELING
3.1
Perencanaan Program BK....................................................................... 7
3.2
Pelaksanaan Program BK........................................................................ 8
BAB
4 PENUTUP
4.1
Simpulan................................................................................................ 10
4.2
Saran...................................................................................................... 10
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... 11
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... 11
LAMPIRAN
BAB 1
LOKASI OBSERVASI
1.1 Identitas
Lokasi Observasi
Dalam
Observasi ini peneliti mengambil lokasi di SD Negeri 01 Bawu Kecamatan Batealit
Kabupaten Jepara. SD Negeri 01 Bawu merupakan salah satu sekolah di desa Bawu
yang beralamat di desa/kelurahan Bawu RT 20 RW 04 Kec. Batealit, Kab. Jepara,
Prov. Jawa Tengah. Sekolah ini resmi berdiri berdasarkan SK Pendirian Sekolah
No. 421.2/005/VIII pada tanggal 1 Agustus 1952. Saat ini SD Negeri 1 Bawu
memiliki 11 guru dan karyawan yang terdiri dari 1 Kepala Sekolah, 6 guru kelas,
1 guru Agama Islam, 1 guru Olahraga, 1 perpustakaan dan 1 penjaga sekolah.
Serta memiliki keseluruhan siswa berjumlah 184 siswa. Observasi yang peneliti
lakukan berada di kelas 1dengan jumlah siswa sebanyak 32 siswa, yang terdiri dari 18 perempuan dan 14
laki-laki.
1.2 Pelaksanaan
Observasi
Peneliti
telah melaksanakan observasi selama dua kali dengan hari dan tanggal yang
berbeda. Waktu yang digunakan yaitu:
a) Senin,
17 Desember 2018, adapun kegiatannya meliputi:
1.
Perkenalan dan meminta
izin untuk melakukan observasi
2.
Menyerahkan surat
pengantar dari universitas kepada Kepala Sekolah SD Negeri 01 Bawu
3.
Melakukan Perjanjian
Wawancara kepada Kepala Sekolah, Guru kelas I, siswa kelas I serta pihak
lainnya yang terkait
b)
Jum’at, 4 Januari 2019,
adapun kegiatannya meliputi:
1.
Melakukan wawancara
dengan kepala Sekolah SD Negeri 01 Bawu
2.
Melakukan wawancara dengan
guru kelas I
3.
Mengamati Keadaan
lingkungan di dalam ruang kelas I
4.
Melakukan wawancara
dengan siswa serta pihak lainnya yang terkait.
BAB 2
HASIL
OBSERVASI
2.1 Identifikasi Masalah-Masalah SD
Dari
observasi yang dilakukan oleh peneliti di SD Negeri 01 Bawu pada hari Jum’at 4
Januari 2019 penulis melaksanakan wawancara dengan narasumber wali kelas I ibu
Dina Andriani, S.Pd. berhasil memperoleh informasi dan data mengenai
permasalahan-permasalahan anak SD ketika proses pembelajaran. Permasalahan diartikan
sebagai ketidaksesuaian anatara harapan dan kenyataan. Menurut Prayitno (1995)
mengemukakan bahwa masalah adalah suatu yang tidak disukai, menimbulkan
kesulitan bagi diri sendiri dan orang lain dan perlu dihilangkan.
Masalah-masalah individu yang timbul dalam lingkup sekolah dapat
diklasifikasikan dalam tiga bidang atau jenis, sebagaimana dikemukakan oleh
Djumhur dan Moh. Surya seperti dikutip oleh Annas Salahuddin (2010: 66-67)
adalah sebagai berikut: (a) Masalah pendidikan (pengajaran dan belajar). Individu
merasakan kesulitan dalam menghadapi kegiatan belajar. (b) Masalah pribadi dan
sosial. Masalah-masalah pribadi dalam lingkup sekolah pada umumnya dari dalam
pribadi individu yang berhadapan dengan lingkungan sekitarnya. (c) Masalah
pekerjaan, masalah ini berhubungan dengan pemilihan pekerjaan. Dengan demikian
permasalahan pada peserta didik merupakan perilaku yang tidak biasa atau
menyimpang dari aturan akibat dari penyesuaian yang dilakuakan dengan
lingkungan. Guru perlu memahami perilaku bermasalah sebab biasanya perilaku
bermasalah tersebut akan tampak di dalam kelas dan bahkan akan menampakkan
perilaku bermasalah itu dalam keseluruhan interaksi dengan lingkungannya.
Berdasarkan
observasi yang dilakukan peneliti dan informasi yang diperoleh dari narasumber
Ibu Dina Andriani, S.Pd. wali kelas I bahwa terdapat beberapa masalah-masalah
yang beragam yang dialami siswa kelas I antara lain:
1. Kesulitan
belajar
Kesulitan
belajar merupakan keadaan dimana siswa tidak dapat belajar sebagaimana mestinya
dikarenakan adanya hambatan-hambatan yang dialami siswa dalam memahami satu
atau lebih bidang studi lainnya sehingga mempengaruhi hasil belajar. Adapun
kesulitan belajar yang dialami siswa kelas ISD Negeri 01 Bawu adalah kurang
terfokusnya siswa pada penjelasan yang diberikan guru. Ketika kegiatan
pembelajaran berlangsung terlihat siswa kurang aktif,hanya beberapa siswa yang
memperhatikan guru mengajar di kelas sedangkan siswa lainnya tidak
memperhatikan dan sibuk dengan hal-hal yang lain seperti, bermain sendiri,
mengobrol dengan teman sebangku sehingga ketika guru menjelaskan tidak
diperhatikan oleh siswa dan guru juga jarang melontarkan pertanyaan kepada
siswa sehingga siswa mengabaikan apa yang disampaikan oleh guru. Kesulitan
belajar yang dialami siswa khususnya yang berkaitan dengan pembelajaran
matematika, rata-rata siswa kelas I menganggap bahwa matematika merupakan
pelajaran yang sulit dan susah untuk dimengerti. Siswa tidak dapat
menyelesaikan soal yang rumit yang membutuhkan pemikiran lebih rinci. Akan
tatapi jika soal yang diberikan sederhana maka siswa dapat meyelesaikannya
dengan mudah, akan tetapi jika soal yang diberika rumit siswa akan mengalami
kesulitan dalam menyelesaikannya. Hal ini dikarenakan siswa kurang berusaha dan
kurang mendapatkan motivasi atau dorongan dalam menyelesaikan dan cenderung
lebih mudah menyerah dalam menyelesaikan soal matematika yang rumit.
2. Pemalu
dan Kurang percaya diri
Siswa
yang memiliki sifat pemalu dan kurang percaya diri biasanya menutup diri,
kurang pandai bergaul dengan teman sebayanya, tidak bisa mengekspresikan
dirinya, adanya perasaan tertekan dan sebagainya. Hal tersebut dapat
berpengaruh pada prestasi belajarnya. Ketika peneliti melakukan observasi
didalam kelas anak yang pemalu dan cenderung kurang percaya diridi dalam kelas
anak tersebut kurang bergaul dengan teman sebaya. Ketika peneliti berusaha
mendekati dan berkomunikasi dengan anak tersebut dia malu-malu dan tidak
mengatakan apapun, dan merasa tidak nyaman ketika bersosialisasi dengan orang
lain (peneliti). Ketika pembelajaran berlangsung guru meminta siswa kurang
percaya diri tersebut untuk maju kedepan kelas menjawab soal dia tidak mau maju
karena tidak berani, bahkan diminta guru untuk berbicara tetapi siswa tersebut
diam saja dan menjawabnya dengan bahasa tubuh.
3. Malas
berangkat sekolah
Peniliti
mendapatkan informasi dari narasumber ibu Dina Andriani, S.Pd. Bahwa terdapat
salah satu siswanya yang sering tidak berangkat sekolah tanpa keterangan. Hal
tersebut disebabkan karena salah satunya faktor internal dari keluarga,
orangtuanya kurang memperhatikan anak. Berdasarkan informasi bahwa siswa
tersebut dari rumah ia berpamitan ke sekolah tetapi tidak sampai disekolah. Hal
tersebut jika dibiarkan terus menerus tentu akan berakibat pada prestasi
belajarnya karena tidak pernah masuk sekolah akan berakibat pada ketertinggalan
materi pelajaran dan berakibat menurunnya prestasi belajar yang diperoleh.
4. Sering
bertengkar dengan teman
Siswa pada usia sekolah dasar
yakni 6-12 tahun belum terlalu terampil
dalam mengemukakan perasaan atau pendapat verbalnya. Maka dari itu tidak heran
seorang siswa terlibat masalah dengan beberapa temannya.Menurut data yang
peneliti dapatkan dari narasumber mengenai permasalahan siswa sering bertengkar
utamanya pada salah satu siswa kelas I dengan siswa kelas II dimulai karena
ejekan adu mulut lalu kemudian terjadi saling memukul. Oleh karena itu perlunya
penanganan untuk mengatasi permasalahan siswa yang bertengkar agar masalah
tidak berkelanjutan dan berujung pada damai antar kedua belah pihak.
5. Mengucapkan
kata-kata yang kasar dan tidak sopan
Kata-kata
kasar pada umumnya timbul akibat tersakiti, diganggu atau kebutuhannya tidak
terpenuhi. Kata-kata kasar juga bisa
diserap atau diperoleh dari lingkungan sekitarnya, misalnya teman mainnya yang
sering mengucapkan kata-kata kasar dan tidak sopan sehingga akan berakibat pada
kecenderungan untuk mengikuti dan mencontoh perilaku tersebut. Siswa kelas I
yang peneliti amati terdapat siswa yang cenderung meremehkan guru ketika
pembelajaran dan tidak hormat pada gurunya. Ketika dinasehati oleh guru siswa
tersebut justru tidak memperdulikan apa
yang di ucapkan guru sehingga terkesan tidak menghormati guru ketika berbicara
dengannya.
6. Ramai
ketika pembelajaran di kelas
Salah
satu masalah yang terjadi ketika berada di dalam kelas yakni siswa ramai
sendiri ketika guru sedang menjelaskan materi pelajaran. Hal tersebut tentu
saja menjadi sebuah masalah karena dapat mengganggu konsentrasi belajar teman
di sekitarnya. Siswa yang ramai sendiri mempunyai kesibukan sendiri seperti
bermain mainan yang akan dimainkan waktu istirahat, mengobrol dengan teman yang
lainnya, membuat keributan sehingga menciptakan suasana yang ramai di dalam
kelas.
7. Siswa
takut dengan guru
Setelah
teramati terdapat siswi kelas 1 menangis saat pembelajaran di kelas disebabkan
tidak menyukai guru laki-laki dan menginginkan setiap harinya dalam proses
belajar di isi oleh semua guru wanita, dalam penilaian siswi tersebut semua
guru laki-laki berkarakter pemarah, kasar dan kurang perhatian.
2.2 Paparan Objek Masalah
Berdasarkan
observasi dengan guru kelas I ibu Dina Andriani, S.Pd. Peneliti ingin
memaparkan salah satu permasalahan yang telah diuraikan diatas secara lebih
detail dan lebih rinci mengenai permasalahan salah satu siswa kelas I yang
memiliki sifat pemalu dan kurang percaya diri. Adapun mengenai pemaparannya
sebagai berikut:
Nama siswa : Muhammad Mirza Zakaria Zul’an
Tanggal lahir : Jepara, 17 Agustus 2012
Jenis kelamin : Laki-laki
Umur :
7 tahun
Kelas :
I (Satu)
Sekolah :
SD Negeri 01 Bawu
Alamat :
Desa Bawu RT. 27 RW. 06 Kec. Batelit Kab. Jepara
Diagnosa : Memiliki sifat pemalu dan kurang
percaya diri dalam segala hal baik pergaulan dan bersosialialisasi dengan orang
lain, maupun dalam proses pembelajaran.
Ketika
peneliti mengamati siswa ini di dalam kelas dia sama sekali diam dan tidak mau
berbicara dan ketika guru bertanya kepada Mirza, dia hanya diam saja dan
menjawabnya dengan bahasa tubuh. Dalam memahami dan menerima materi pelajaran
mirza sudah baik. Mirza termasuk siswa yang baik dan sopan pada guru, tetapi
dalam pergaulannya Mirza anak yang pendiam atau pemalu dan jarang sekali
berbicara selalu menyendiri ketika istirahat tidak seperti teman-temannya yang
lain ketika istirahat semua siswa keluar kelas untuk bermain bersama. Pernah ketika
Mirza diminta maju kedepan oleh gurunya tetapi dia tidak mau maju untuk menjawab
soal karena dia tidak berani dan kurang percaya diri terhadap kemampuan yang
dimiliknya.
Penanganan
yang diberikan oleh guru kelas Mirza yakni ibu Dina Andriani, menurut beliau
menangani anak yang pendiam dan pemalu itu melalui pendekatan dan juga adanya
kerjasama dengan orangtua Mirza. Pendekatan individu yang dilakukan ketika
tidak dalam proses pembelajaran misalnya pelan-pelan diajak untuk berbicara
mengenai kesukaannya. Selain itu buatlah Mirza percaya dan merasa nyaman dengan
kita sebagai guru. Karena kalau sudah nyaman tentunya akan lebih terbuka.
Selain itu penanganan juga dilakukan oleh keluarga, dilibatkannya keluarga
dalam penanganan masalah anak karena Mirza lebih banyak menghabiskan waktunya
bersama dengan keluarga dibandingkan di sekolah. Selain itu pihak keluargalah
yang sangat berperan dalam membentuk rasa percaya diri Mirza. Dengan melibatkan
keluarga diharapkan penanganan terhadap Mirza dapat mencapai hasil yang
maksimal. Upaya penanganan juga harus melibatkan teman-teman Mirza.
BAB
3
RENCANA
PROGRAM BIMBINGAN KONSELING
3.1 Perencanaan
Program Bimbingan Konseling
Program
Bimbingan konseling yang peneliti pilih untuk menangani permasalahan kepercayaan diri siswa dengan menggunakan
layanan konseling kelompok. Peneliti
dalam hal ini mengambil referensi jurnal yang berjudul Mengatasi Kepercayaan
diri siswa melalui Konseling Kelompok. Konseling kelompok merupakan suatu
proses antar pribadi yang terpusat pada pemikiran dan perilaku yang disadari.
Proses itu mengandung ciri-ciri seperti mengungkapkan pikiran dan perasaan
secara leluasa, orientasi pada kenyataan, pembukaan diri mengenai
perasaan-perasaan mendalam yang dialami, saling percaya, saling perhatian,
saling pengertian, dan saling mendukung (Prayitno, 2005). Tujuan konseling
kelompok adalah berkembangnya kemampuan sosial siswa, khususnya kemampuan
berkomunikasinya. Melalui konseling kelompok hal-hal yang dapat menghambat atau
mengganggu sosialisasi dan komunikasi siswa diungkap dan didinamikakan melalui
berbagai teknik, sehingga kemampuan komunikasi dan sosialisasi siswa berkembang
secara optimal.
Konseling
kelompok merupakan salah satu dari sekian banyak layanan yang ada dalam
bimbingan dan konseling. Kepercayaan diri merupakan komponen penting dalam
mengembangkan potensi diri siswa. Dalam tahap perencanaan ini adalah membentuk
kelompok yang akan melaksanakan konseling kelompok. Sebelum konseling kelompok
dilaksanakan guru kelas yang berperan sekaligus sebagai guru BK terlebih dahulu
mengumpulkan beberapa siswa yang akan melaksanakan konseling kelompok. Tahap
ini merupakan tahap pengenalan, tahap pelibatan
diri atau tahap memasukkan diri kedalam kehidupan suatu kelompok. Pada tahap
ini umumnya para siswa yang menjadi anggota kelompok saling memperkenalkan diri
selanjutnya menunjuk salah satu anggota untuk menjadi pemimpin dalam kelompok
selanjutnya pimpinan kelompok mengadakan permainan untuk mengakrabkan
masing-masing anggota sehingga menunjukkan sikap hangat, tulus, dan penuh
empati. Proses utama pada tahap awal ini adalah orientasi dan eksplorasi. Pada
awalnya tahap ini akan diwarnai keraguan dan kekhawatiran, namun juga harapan
dari siswa. Namun apabila guru BK mampu menfasilitasi kondisi tersebut, tahap
ini akan memunculkan kepercayaan terhadap kelompok.
Tahap
selanjutnya adalah membangun iklim saling percaya yang mendorong anggota
kelompok menghadapi rasa takut yang muncul pada tahap awal. Guru BK perlu
memahami karakteristik masing-masing anggota kelompok. Sebelum melangkah lebih lanjut ke tahap
kegiatan kelompok yang sebenarnya, guru BK menjelaskan peranan kelompok dalam
kegiatan kemudian menawarkan atau mengamati apakah para anggota sudah siap
menjalani kegiatan pada tahap selanjutnya. Langkah-langkah pada tahap ini
diantaranya; (a) menjelaskan kembali kegiatan konseling kelompok, (b) tanya
jawab tentang kesiapan anggota untuk kegiatan lebih lanjut, (c) mengenali
suasana apabila anggota secara keseluruhan atau sebagaian belum siap untuk
memasuki tahap betikutnyadan mengatasi suasana tersebut, (d) memberi contoh
masalah pribadi yang dikemukakan dan dibahas dalam kelompok.
3.2 Pelaksanaan
Program Bimbingan Konseling
Pada
tahap ini ada proses penggalian permasalahan yang mendalam dan tindakan yang
efektif. Menjelaskan masalah pribadi yang hendak dikemukakan. Tahap ini
merupakan kehidupan yang sebenarnya dari kelompok. Namun kelangsungan kegiatan
kelompok pada tahap ini amat tergantung pada hasil dari tahap sebelumnya yakni
tahap perencanaan. Jika tahap sebelumnya berjalan dengan baik, maka tahap
pelaksanaan ini akan berhasil dengan lancar. Tahap ini merupakan tahap dimana
masing-masing siswa yang termasuk dalam anggota kelompok saling berinteraksi
dengan adanya bimbingan dan arahan dari Guru BK sehingga rasa malu dan tidak
percaya diri dapat diatasi dan membawa kearah konseling kelompok sesuai dengan
tujuan yang diharapkan. Pada tahap ini pelaksanaan konseling ditandai dengan
anggota kelompok mulai melakukan perubahan tingkah laku di dalam
kelompok.Adapun teknik kelompok untuk mengatasi rasa kepercayaan diri siswa,
diantaranya:
a. Teknik
Umum
Merupakan
teknik-teknik yang dipergunakan dalam penyelenggaraan layanan konseling
kelompok mengacu pada berkembangnya dinamika kelompok yang diakui oleh seluruh
anggota kelompok untuk mencapai tujuan layanan.
Adapun
teknik-tekniknya meliputi; (a) komunikasi multi arah secara efektif dan
terbuka, (b) pemberian rangsangan untuk menimbulkan inisiatif dalam pembahasan,
diskusi, analisis, (c) pelatihan untuk membentuk pola tingkah laku yang
dikehendaki.
b. Teknik
permainan kelompok
Layanan
konseling kelompok dapat diterapkan teknik permainan baik sebagai selingan
maupun wahana (media) yang memuat materi pembinaan tertentu. Permainan kelompok
yang efektif harus memnuhi ciri-ciri sebagai berikut; (a) sederhana, (b) menggembirakan, (c)
menimbulkan rasa santai, (d) meningkatkan keakraban.
c. Modeling
Merupakan
strategi dimana guru BK menyediakan demonstrasi tentang tingkah laku yang
menjadi tujuan. Teknik ini dilaksanakan dengan mengamati dan menghadirkan model
secara langsung saat konseling kelompok untuk mencapai tujuan, sehingga
kecakapn-kecakapan pribadi atau sosial tertentu bisa diperoleh dengan mengamati
atau mencontoh tingkah laku model-model yang ada.
d. Bermain
peran
Merupakan
suatu teknik konseling melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan anggota
kelompok. Pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan dengan memerankan
sebagai tokoh hidup atau benda mati yang disesuaikan dengan kejadian dalam
kehidupan sebenarnya.
e. Menggunakan
Humor
Humor
dipergunakan sebagai selingan saat konseling kelompok yang mendorong suasana
yang segar dan relaks tidak menimbulkan ketegangan.
BAB
4
PENUTUP
4.1 Simpulan
Berdasarkan
uraian diatas masalah-masalah yang dialami siswa SD Negeri 01 Bawu Kec.
Batealit Kab. Jepara kelas I diantaranya;kesulitan dalam belajar, rasa malu dan
kurang percaya diri, malas berangkat sekolah, sering melanggar kedisiplinan
sekolah, bertengkar dengan teman, mengucapkan kata-kata kasar dan tidak sopan,
ramai ketika pembelajaran, serta takut dengan guru yang tidak di sukai.
Penanganan
untuk mengatasi permasalahan siswa berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan
masing-masing siswa tersebut. Dengan adanya Bimbingan atau arahan yang
diberikan guru BK dapat memberikan bantuan pada siswa agar dapat menjadi
pribadi yang memiliki pemahaman akan diri sendiri dan sekitarnya serta membantu
daalam teratasinya permasalahan yang dialaminya. Bimbingan dan pendidikan pada
siswa sangatlah dibutuhkan guna membentuk karakter siswa.
4.2 Saran
Guru
selaku pendidik harus dapat mengetahui karakteristik siswa sebelum guru
melakukan kegiatan pembelajaran. Hal ini penting dilakukan karena pada diri
siswa terdapat banyak keunikan yang berbeda-beda. Dalam hal ini semua elemen
yang terlibat dalam mengatatasi permasalahan yang dialami siswa harus saling
mendukung dan terlibat baik sekolah itu sendiri, guru, serta orangtuaagar dapat
terselesaikan secara optimal.
DAFTAR PUSTAKA
.
Prayitno. 2005. Layanan
Bimbingan dan Konseling Kelompok. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Prayitno.
1995. Layanan Bimbingan dan Konseling Kelompok (Dasar dan Profil).
Padang: Ghalia Indonesia.
Salahudin, Anas. 2010. Bimbingan
dan Konseling. Bandung: Pustaka Setia.
Mulkiyan. 2017. Mengatasi Masalah Kepercayaan Diri Siswa
Melalui Konseling Kelompok. Yogyakarta: Jurnal Konseling dan Pendidikan
Vol.5.,No.3, hlm.136-142.
Lampiran : Dokumentasi Kegiatan
Observasi
Observasi
berlangsung dengan peserta didik
Dokumentasi
selesai wawancara dengan guru kelas I ibu Dina Andriani, S.Pd.
.................................................
Leave a Comment